Prevalensi Henti Jantung – Epidemiologi Global dan Indonesia

Henti Jantung : Tantangan Kesehatan Global yang Mendesak

Henti jantung mendadak merupakan salah satu kondisi medis darurat yang paling mengancam jiwa di dunia. Kondisi ini terjadi ketika jantung tiba-tiba berhenti memompa darah secara efektif, menyebabkan aliran oksigen ke organ vital terhenti dalam hitungan detik.

Seberapa Sering Henti Jantung Terjadi?

Data terkini menunjukkan betapa masifnya dampak henti jantung di seluruh dunia. Menurut statistik American Heart Association tahun 2024, terdapat lebih dari 356.000 kasus henti jantung di luar rumah sakit (OHCA) setiap tahunnya di Amerika Serikat, dengan tingkat kematian mencapai hampir 90%. Secara global, diperkirakan terjadi 4-5 juta kasus henti jantung mendadak setiap tahunnya.

Di Eropa, insiden henti jantung di luar rumah sakit bervariasi antara 0,04% hingga 0,1% dari populasi setiap tahunnya. Negara-negara seperti Swedia melaporkan rasio OHCA terhadap henti jantung di dalam rumah sakit sebesar 1,7:1, menunjukkan bahwa sebagian besar kasus terjadi di luar fasilitas kesehatan.

Siapa Saja Yang Rentan Mengalami Henti Jantung?

  • Usia median penderita: 66-68 tahun
  • Jenis kelamin: Laki-laki lebih rentan
  • Lokasi tersering: 72-73% terjadi di rumah atau tempat tinggal
  • Survival rate: Hanya 8-10% yang berhasil bertahan hidup hingga keluar dari rumah sakit

Bagaimana Dengan Indonesia?

  • Berdasarkan data IHME (Institute for Health Metrics and Evaluation), kasus kematian akibat henti jantung di Indonesia mencapai 251,09 per 100.000 orang pada tahun 2023, meningkat 1,25% dibandingkan tahun sebelumnya (247,99 per 100.000 penduduk)
  • Estimasi kejadian henti jantung di Indonesia: 300.000-350.000 kasus per tahun, mencakup kejadian di dalam dan luar rumah sakit
  • Menurut data Perkumpulan Kardiologis Indonesia (PERKI), angka kejadian henti jantung terjadi pada 10 dari 100.000 orang per tahun

Bagaimana Dengan Indonesia?

  • Prevalensi penyakit jantung koroner: 1,5% berdasarkan diagnosis dokter (RISKESDAS 2018)
  • 50% penderita penyakit jantung koroner berisiko mengalami henti jantung mendadak
  • Penyakit kardiovaskular menyebabkan 651.481 kematian per tahun di Indonesia

Mengingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan perokok terbesar di dunia, tentunya populasi di sekitar kita menjadi populasi yang renta terhadap ACS dan komplikasinya berupa henti jantung mendadak.

Oleh karena itu, penting bagi setiap orang memiliki kemampuan untuk melakukan BHD.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Scroll to Top